Minggu, 19 April 2009

Bijak dalam berbuat

pepatah mengatakan "mulutmu harimaumu" yang artinya bahwa setiap ucapan maupun perbuatan yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita sendiri. pepatah lain mengatakan "karena nila setitik rusak susu sebelangah" pepatah inilah yang sering didengar oleh semua orang namun sering dilanggar..

tanpa disadari, setiap ucapan maupun perbuatan baik itu baik ataupun buruk, dampaknya ternyata tidak hanya akan dirasakan oleh diri kita sendiri, tetapi juga oleh institusi atau kelembagaan lain yang secara sadar maupun tidak sadar diwakili oleh diri kita.

pernah kita mendengar ada anaknya "pak fulan" yang mati karena over dosis, pernah juga kita mendengar "si fulan" anaknya "pak fulan" kemarin dipergoki sedang berbuat mesum di rumah kosong. atau pernah pula kita mendengar, wah senang sekali ya seandainya kita menjadi "pak fulan", dia memiliki anak yang cerdas sampe2x bisa sekolah keluar negeri..

ini adalah hal simpel dimana setiap pribadi akan mewakili suatu institusi atau lembaga yaitu keluarga. mungkin pada saat kita berbuat sesuatu yang baik maupun buruk, pada saat itu kita merasa diri kita egois merasa bahwa inilah hidup dia, dia bebas berbuat, bebas memuaskan nafsunya, persetan dengan pendapat orang lain tentang sikap buruknya..namun dia tidak berfikir bahwa sesungguhnya perbuatannya itu justru memiliki dampak besar terhadap nama keluarganya dimasyarakat, yang akhirnya dengan sikap satu orang anak, maka yang rusak adalah lembaga keluarga.

sekarang kita coba meningkat ke institusi yang lebih besar. ..ketika mereka yang memiliki titel yang mewakili institusi lebih besar...seperti ustadz atau ulama yang mewakili kaum alim umat islam, pendeta yang mewakili kaum kristiani, anggota DPR yang mewakili keseluruhan anggota DPR lainnya, pelajar atau mahasiswa atau bahkan perantauan orang indonesia di luar negeri yang notebannya mewakili seluruh warga negara indonesia.

setiap orang tidak pernah menginginkan atau mendeklarasikan bahwa dirinya adalah perwakilan suatu kaum, tapi orang lain tetap akan menilainya demikian.
ketika ada satu orang anggota DPR terlibat skandal maka yang cemar adalah nama baik DPR itu sendiri...dan masih banyak lagi..

oleh karena itu, meskipun tidak kita harapkan, tapi setiap individu harus senantiasa cermat dalam memilih sebuah tindakan, berfikir akan efek yang ditimbulkannya kelak.

sekian dan smoga bermanfaat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar